13 August 2010

Beberapa hari belakangan, saya bertemu dengan banyak sekali malaikat-malaikat kecil. Mereka yang dengan kepolosan dan wajah manisnya membuat saya semakin menyadari kuasaMu ya Rabb, kekuatanMu dan sifat penyayangMu yang Engkau wujudkan melalui wajah malaikat-malaikat kecil itu.

Sungguh tidak kuasa perasaan ini menahan rasa keinginan untuk juga tidak sekedar mengelus mereka, menggendong mereka atau bahkan menyayangi mereka.. tapi saya ingin juga memiliki mereka. Sungguh saya seorang perempuan yang menyadari benar buncahan rasa kasih yang tertahan didalah hati ini untuk juga merasakan indahnya menjadi seorang ibu. Sungguh rindu ini begitu menutup rasa kekanak-kanakan yang sesungguhnya masih ada didalam diri ini, mencoba dan sedikit memaksa jiwa untuk menjadi dewasa walau sejujurnya saya belum faham dan yakin benar kalau saya sudah siap untuk menjadi ibumu kelak Nak..

Saya adalah seorang perempuan. Karenanya, sunnatullah apabila saya mengharapkan suatu saat diberi amanah terindah yang akan memanggil saya “Ibu”. Kehendak Allah ialah satu-satunya penentu apakah amanah tersebut akan dititipkan pada saya kelak. Tetapi, saya tahu satu hal, saya telah mencintai anak saya. Bahkan sebelum ia lahir.

Maka tertuturlah kata demi kata. Sebuah ungkapan rindu seorang calon ibu yang mengharapkan anaknya menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata). Kata merangkai kalimat. Kalimat memendar lembar. Lalu lembar pun mewujud setumpuk surat. Saya menamakannya “Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu.”

Banyak, banyak sekali yang ingin saya curahkan dalam surat-surat tersebut. Tentang cinta dan harapan saya bagi anak-anak saya. Tentang pengalaman. Pemikiran. Nilai-nilai kehidupan. Betapa saya mengharapkan bahwa bait-bait surat yang datangnya dari hati ini nantinya dapat mengkristal menjadi sebuah refleksi bagi anak-anak saya. Sebuah kontemplasi. Bukankah Amr bin Qais pernah berkata bahwa ‘kata-kata yang keluar dari relung hati akan masuk pula ke dalam hati’ ? Sehingga mudah-mudahan kebaikan saja -tidak yang lain- yang akan mereka petik dari surat ibunda mereka, insya Allah.

Berikut beberapa paragraf dari lembar-lembar itu;

Anandaku, bagaimana kabarnya dirimu? Ini ibundamu, Nak. Menuliskan helai demi helai surat ini sebagai wujud cintaku. Meski belum jua kuketahui kapankah dirimu akan hadir menjadi amanah terindah bagiku. Tetapi percayalah, aku sudah mencintaimu.

Segenap jiwa, aku telah merindukanmu. Mendoakan dunia akhiratmu. Memelukmu erat. Menciummu hangat. Bahkan sebelum engkau hadir.

Ayahandamu, belum menjadi suamiku ketika aku menuliskan ini. Doa kami masih di langit. Hanya perkara waktu sampai Allah mempertemukan kami. Tetapi percayalah, ia pun sudah mencintaimu sejak kini.

Impian kami satu, Nak, menjadi ayah dan ibu terbaik bagimu. Ayah dan ibu yang segenap cintanya lekat di hatimu. Mengiringi detak, langkah, dan helamu. Menemani perjalanan lahir dan batinmu. Hingga ke surga kelak, insya Allah.


Sebagaimana saya jelaskan di mula, banyak sekali yang ingin saya curahkan dalam surat ini. Salah satunya tentang pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Lho, kok bisa? Ya, proses penulisan ini kan ajang belajar saya juga, agar dapat menjadi istri dan ibunda terbaik dunia akhirat. Jadi, ini adalah bagian dari usaha tiada henti saya dalam mempersiapkan dan memperbaiki diri. Mudah-mudahan Allah meridhai usaha saya. Amiin.

Berikut petikannya lagi;

Anakku yang dicintai Allah, sudah kewajibanku pula untuk mengingatkanmu, bahwa kau bukan hanya akan mencari seorang suami atau istri, Nak. Akan tetapi, juga seorang ayah dan ibu bagi anak-anakmu. Dari spermanya akan mengutuh jati diri anakmu nanti. Dalam rahimnya akan mewujud buah hatimu kelak.

Karenanya, pandanglah jauh menerawang. Bukan semata dari kedudukannya saat ini, Nak. Bukan pula sebatas ketampanan dan kecantikannya kini. Bayangkan bertahun kemudian. Ketika kalian menua bersama. Ketika kalian menatih jalan anak pertamamu. Ketika kalian merapikan mukena gadis kecilmu yang sedang belajar shalat.

Seperti apa ia kelak, Nak? Apakah ia akan membangunkan anakmu dengan kecupnya sewaktu Subuh menjelang? Akankah ia melantunkan alquran sebagai lagu nina bobo bagi anakmu? Yakinkah kau bahwa anakmu akan menjadi prioritas utamanya, bahwa ia akan menjadi ayah dan ibu penuh waktu –bukan ayah dan ibu akhir pekan?

Sebagaimana kau ketahui, Nak. Aku menuliskan ini bahkan ketika aku belum dapat memastikan bilakah aku dan calon ayahmu kelak akan diikat kedalam satu ikatan pernikahan. Namun kujanjikan kepadamu, Nak, aku mendoa siang malam agar Allah menganugerahimu ayah terbaik bagi dunia dan akhiratmu. Ayah dengan hati lembut, yang senyum penuh kasihnya buncah setiap memandangmu. Ayah dengan tubuh kuat, yang sanggup mengajarimu berpeluh demi umat. Ayah dengan cita-cita besar, yang menanamkan ridha Allah sebagai tujuan utama keluarga kita.

Sebagaimana kau ketahui pula, Nak. Aku menuliskan ini bahkan ketika aku belum tahu bilakah aku menjadi ibundamu. Namun, siang malam pula, Nak, aku berdoa agar mampu menjadi ibu terbaik bagi dunia dan akhiratmu. Ibu yang memperdengarkan ayat suci sejak kau dalam kandungan. Ibu yang mewujud sahabat terbaikmu. Ibu yang menggenggam tanganmu erat dalam mengarungi naik turun kehidupanmu
.


Mungkin akan lama surat-surat ini menanti, hingga tersampai pada masa yang tepat bagi anak saya untuk membacanya. Tetapi bukankah Allah adalah pengabul segala pinta? Karenanya biarlah ini menjadi salah satu wujud doa saya. Biarlah terpanjat. Biarlah terdengar.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min (40): 60)

sumber

16 July 2010



Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia...

Dia bertanya kepada Tuhan :

"Para malaikat disini mengatakan bahawa besok Engkau akan mengirimkan saya kedunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana; saya begitu kecil dan lemah ?"

Dan Tuhan menjawab:

"Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu ."

Bayi bertanya lagi:

"Tetapi disini; didalam syurga ini, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi, bermain dan tertawa... Inikan sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia"

"Dan bagaimana bisa saya mengerti disaat orang-orang berbicara kepada saya jika saya tidak mengerti bahasa mereka ?"

"Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian. Dia akan mengajar kepadamu cara berbicara."

"Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?"

"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa"

"Saya mendengar bahawa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?

"Malaikatmu akan melindungimu; walaupun hal tersebut mungkin akan mengancam jiwanya"

"Tapi, saya pasti akan merasa sedih kerana tidak melihatMu lagi"

"Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaKu; walaupun sesungguhnya Aku akan sentiasa disisimu"

Disaat itu, Syurga begitu tenang dan heningnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang bayi bertanya perlahan

"Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?"

"Kamu akan memanggil malaikatmu itu: "IBU "

Untuk para anak, ingatlah sentiasa kasih sayang dan pengorbanan ibu. Berbakti, berdoa dan cintailah dia sepanjang masa.

Dialah satu-satunya harta yang tiada gantinya di dunia dan akhirat….

Dan untuk para ibu, ingatlah kisah ini dikala kamu hilang sabar karena anak-anak yang sedang tumbuh…

sesungguh nya Syurga itu dibawah telapak kakimu…

Sucikanlah syurga dengan 4 perkara :

1) Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan,
2) Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu,
3) Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, dan dosa-dosa yang lalu
4) Di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."

I luv u Mama, malaikat ku
:inlove:

Sumber
.... "Saya takut menjadi musyrik. Saya takut menyekutukan Cinta saya kepada Allah karena cinta saya kepada Yusuf. Saya rindu untuk dibelai Allah, tetapi hati saya dipenuhi pula kerinduan kepada Yusuf. Apakah saya sudah menjadi manusia musyrik ya ustadz? Tolonglah saya! Demi Allah, saya tidak kuasa untuk memilih satu dari cinta dan kerinduan ini. Rindu saya untuk menggapai Wajah Allah seiring rindu saya menggapai wajah Yusuf...."
- Taufiqurrahman al-Azizy -

Suka banget ama quote ini.. Rasanya perasaan kita yang bernama cinta kepada sesama makhluk Allah selama ini udah saya salah artikan.

Apakah saya sudah musyrik dengan mengagung-agungkan perasaan saya kepada makhluk yang bernama manusia?
Ya Allah semoga rasa cintaku kepada Engkau tidaka akan pernah berkurang karena rasa cintaku kepada makhlukMu...

PS : Novel ini bagus banget!.. banyak banget novel-novel cinta yang berdasarkan Islam dan Al-Qur'an yang udah saya baca, dan Novel ini salah satu yang terbaik. Saya mempelajari banyak hal dari Novel ini terutama untuk mengerti bagaimana seharusnya menafsirkan cinta duniawi…
:inlove:

15 July 2010



Tidak cukupnya saya hanya memuji kebesaran Allahu Rabb yang telah membuat suatu proses penciptaan seorang manusia.
Didalam Al-Qur'an (QS. Al-Mu'minun : 12-14), Allah telah menjelaskan secara terperinci bagaimana seorang manusia bisa tercipta...

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik."

Lalu, apa yang bisa kita ingkari sebagai seorang manusia?, Apakah kita masih mengingkari kekuasaan, kebesaran, dan keEsa-anNya?
Apakah kita masih ingin mengingkari bahwa hanya Dia lah yang Maha pencipta.

Terima kasih ya Allah.. karna telah mengizinkan saya melewati fase itu.
Terima kasih karena telah memberikan saya kekuasaan untuk menatap bukti-bukti kebesaran Mu di dunia Mu yang fana ini.
Terima kasih karena telah memberikan tempat indah didalam rahim seorang wanita hebat, tempat saya dapat melewati tahap-tahap menjadi seorang manusia yang sempurna fisiknya, sempurna akalnya, dan insha Allah berniat untuk menjadi manusia baik nantinya.
Izinkan hamba Mu yang hina ini terus bersujud dihadapanMu untuk sedikit saja memohon akan ampunanMu, membasuh semua dosa-dosa dengan air mata sambil mengagungkan kekuasaan dan kebesaranMu, Allahu Akbar.

Terima kasih Mama, telah berjuang meregang nyawa demi melahirkan anakmu ini.
Terima kasih Mama, telah merelakan rasa sakit dan perih itu menyiksamu selama saya masih ada didalam tubuhmu, didalam rahim mu.
Terima kasih Mama, telah menjadi pengasuh, pendidik, panutan, dan pelindung disaat saya ada dimuka bumi ini...
Terima kasih mama sudah menjaga anak-anakmu dikala tidur kami, dengan lincah menghalau nyamuk ktika mereka mengganggu mimpi kami, tanpa memperdulikan uban-uban halusmu yang tak akan mungkin bisa menutupi kecantikan paras dan hatimu. Tanpa memperdulikan apakah lelah raga mu hingga tidur duduk mu?

Mama... tak cukup ungkapan terima kasih mendalam yang harus kami sampaikan.
Kami tau, jika bukan itu yang engkau harapkan. Bukan ungkapan terima kasih dengan ribuan kata hingga limpahan materi.
Sungguh kami tau bahwa engkau hanya membutuhkan doa dan kasih sayang dari anak-anakmu, seperti keheningan malam yang menyergap ketika engkau panjatkan doa untuk kami ketika kami terlena di belenggu mimpi

Kini, Ramadhan sudah diambang pintu
Akankah sempurna ibadah kami nantinya tanpa ampunan mu atas segala dosa-dosa kami?
Akankah diridhaiNya amalan ramadhan kami nantinya tanpa maaf dari bibir lelah mu?
Maafkan saya yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Namun
Di ramadhan ini, ...
Sesaat inginnya saya membasuh rindumu,
Mencium punggung tanganmu yang harum,
Dan bersujud ku untuk memohon surga.
Memohon ridha Mu

Ridha dari Allahu Rabb,
Yang telah menjaga tubuh rentamu untuk terus ada bersama kami
:puppyeyes:

07 July 2010



Apa salahku
Kau buat begini
Kau tarik ulur hatiku
Hingga sakit yang ku rasa

*
Apa memang ini yang kamu inginkan
Tak ada sedikitpun niat ‘tuk serius kepadaku

**
Katakan yang sebenarnya
Jangan mau tak mau seperti ini

Reff:
Akhirnya kini aku mengerti
Apa yang ada difikiranmu selama ini
Kau hanya ingin permainkan perasaanku
Tak ada hati tak ada cinta

Apa memang ini yang kamu inginkan
Tak ada sedikitpun niat ‘tuk serius kepadaku

Katakan yang sebenarnya
Jangan mau tak mau seperti ini

Kembali ke Reff: 2x

Akhirnya kini aku mengerti
Apa yang ada dipikiranmu selama ini
Kau hanya ingin permainkan perasaanku
Tak ada hati tak ada cinta

Apa salahku

 
Copyright (c) 2011 Adiba's Mommy. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.
Desing Downloaded From Free Blogger Templates | Free Website Templates | Free PSD Graphics