10 October 2013

Di minggu ke 33 kehamilan ini, rasanya bener-bener complicated bgt. Seluruh 'rasa' numpuk ngublek jadi satu dan yang paling menonjol adalah emosi dan ketakutan yang amat sangat. Ketakutan lebih ke khawatir akan proses persalinan yang nantinya akan dijalanin. 

Banyak refrensi yang didapet, mulai dari nanya ke keluarga, temen-temen dan yang paling sering ke Mbah Gugel hehe. Salah satu site yang paling recommend itu adalah di http://www.bidankita.com terutama untuk yang berencana dan pengen belajar dan tau bener tentang macam-macam persalinan. Salah satu artikelnya yang menurutku membantu sangat buat calon-calon ibu baru yang persalinan merupakan hal yang sangat-sangat baru baginya. 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Proses persalinan merupakan pengalaman mental yang luar biasa dan tidak mungkin dilupakan atau terlupakan. Ini terbukti ketika Anda coba bertanya kepada ibu Anda bahkan Nenek Anda tentang sejarah atau kisah persalinan mereka. Mereka akan dengan detail mampu menceritakan dan menggambarkan tentang pengalaman melahirkannya. Apalagi ketika mereka mengalami trauma atau mengalami sesuatu yang sangat berkesan baik dalam konteks positif maupun negatif. Sehingga seringkali saat Anda bertanya tentang kisah persalinan mereka justru Anda akan mendapatkan wejangan-wejangan khusus dari mereka berkaitan dengan proses tersebut. 

Untuk itulah maka sangat penting bagi anda untuk mempersiapkan mental dan spiritual untuk menghadapi proses persalinan nanti. 
Ada beberapa sikap dasar yang harus Anda miliki sebagai calon ibu. 

1. Pikiran Awal/pemula (Beginner’s Mind) 

Dari semua aspek dalam proses persalinan yang terjadi pada setiap orang, pengalaman persalinan Anda adalah milik Anda sendiri yang mana pengalaman persalinan Anda tentu saja berbeda dengan pengalaman persalinan ibu yang lain. Bahkan pengalaman persalinan Anda yang pertama tidak akan sama dengan pengalaman persalinan Anda yang kedua atau seterusnya. Dan pengalaman persalinan tersebut bisa saja berbeda dengan apa yang Anda baca, Anda lihat di TV maupun video. Persalinan Anda adalah unik. Jadi pemikiran inilah yang harus mengawali dan menjadi dasar dalam pikiran dan hati Anda. Sehingga jangan sampai anda mengandalkan rumus “KATANYA”, yaitu katanya si A begini......, lalu katanya si B begitu.... dan seterusnya. 

Ingat Anda harus mengingat bahwa persalinan setiap manusia itu berbeda karena manusia itu unik. Pikiran Awal/pemula (Beginner’s Mind) hampir sama dengan pikiran tidak tahu atau “don’t know mind”. Kita tahu bahwa selama proses kehamilan terkadang kita menemui beberapa kejadian yang tidak di harapkan. Contohnya ketika Anda melakukan test laboratorium ditemukan bahwa Anda menderita anemia atau sesuatu yang lebih serius misalnya mengidap virus CMV (Cytomegalovirus). Atau mungkin tiba-tiba di umur kehamilan 32 minggu posisi janin Anda menjadi sungsang, dimana hal ini memungkinkan sebuah jawaban yang tidak diharapkan ketika muncul pertanyaan bagaimana cara bayi Anda dilahirkan nanti. Seringkali kejutan demi kejutan terjadi pada saat proses persalinan dan kejutan tersebut terkadang tidak dapat Anda hindari, contohnya jika tiba-tiba selaput ketuban Anda pecah dan Anda mengalami Ketuban Pecah Dini, atau kejutan yang Anda alami saat tiba-tiba Anda merasa ingin mengejan padahal belum pembukaan lengkap Pikiran awal atau beginner mind membuat kita lebih siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam persalinan nanti, dimana dalam pikiran ini kita dapat menyadari harapan dan harapan kita akan proses persalinan tanpa harus terpaku kaku dengan harapan-harapan tersebut, apalagi terobsesi. Dalam arti bahwa ketika Anda sudah mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya maka saat persalinan adalah waktunya untuk pasrah, ikhlas dan tenang. 

2. Tidak menghakimi (Non-Judging) 

“Pasti bakalan terasa sakit sekali!” “Sepertinya aku tidak bakalan kuat menahan rasa sakit yang katanya orang benar-benar luarbiasa!” “Aku terlalu gemuk, pasti aku kesulitan saat melahirkan nanti” Apa yang kita pikirkan seringkali merupakan reaksi dari pengalaman hidup kita yang lalu. Kita bisa saja dengan mudah dan cepat menghakimi atau menilai sesuatu apakah itu sebagai hal yang baik atau buruk ketika kita menemukan bahwa itu menyenangkan atau menyakitkan. 

Dan beberapa kalimat di atas adalah kalimat-kalimat penilaian dan penghakiman terhadap diri sendiri yang seringkali ada di dalam pikiran dan hari Anda. Ketika pemikiran tentang penghakiman atau penilaian tersebut terus ada dalam hati dan pikiran Anda, maka hal ini akan sangat berdampak hingga proses post partum (paska melahirkan) nanti, dimana ini justru membuat Anda berpotensial menderita depresi post partum. Karena dengan adanya pemikian tersebut bisa saja Anda selalu menyalahkan diri Anda atas beberapa kejadian yang mungkin saja tidak mengenakkan dan menyakitkan yang Anda alami. 

3. Sabar (Patience) 

Sabar adalah modal utama dalam proses kehamilan dan dan persalinan. Dan melalui proses ini jugalah saya belajar banyak tentang arti kesabaran. Sabar adalah ketika Anda harus menunggu tanda-tanda persalinan datang padahal hari perkiraan lahir sudah terlewati dan semua orang sudah menayakan kepada Anda tentang kapan Anda melahirkan. Sabar adalah ketika Anda harus menunggu selama 40 minggu bahkan lebih untuk bertemu dengan buah hati Anda Sabar adalah ketika pembukaan berjalan begitu lambat dan terasa tidak nyaman Sabar adalah ketika Anda merasakan kontraksi demi kontraksi yang tak kunjung usai. Ya sabar, sabar dan sabar adalah hal pokok yang harus dimiliki seorang calon ibu, calon bapak juga oleh bidan maupun dokter. Saya seringkali menggambarkan bahwa sabar adalah ketika saya harus mengawasi, mengobservasi dan menunggu. Dimana saya harus bersabar untuk tidak melakukan intervensi yang tidak perlu ketika pembukaan klien tidak sesuai dengan teori yang ada. Dimana saya harus bersabar untuk tidak memberikan induksi ketika hari perkiraan lahir sudah terlampaui. Dan saya selalu mengatakan kepada klien saya bahwa sabar adalah pelajaran yang di dapat dalam proses persalinan, karena jika Anda tidak sabar, bagaimana dengan pola pengasuhan kelak, karena ketika Anda sudah memasuki fase pengasuhan anak, sabar adalah modal utama untuk menjadi orangtua yang baik. 

Kesabaran memang sederhana tetapi tidak mudah. di budaya Jawa, nenek kami selalu mengatakan bahwa “kabeh bayi bakalan metu nek uwis sangate” artinya adalah bayi akan lahir ketika sudah tiba saatnya. Saatnya siapa? Ya saatnya dia sudah diap untuk di lahirkan dan Tuhan sudah menghendaki bayi itu untuk dilahirkan. Bukan kehendak manusia tetapi kehendak Sang Kuasa. bagi saya filosofi dalam budaya Jawa ini sangat dalam artinya. Seringkali dalam kenyataan hidup ini calon orangtua bahkan para provider tidak sabar untuk menanti “sangate/saat-nya” tersebut. Sehingga seringkali akibat rasa tidak sabaran inilah maka muncul rasa takut, muncul rasa khawatir, muncul rasa tidak percaya kepada tubuh dan bayi, dan akibatnya berbagai intervensi yang sebenarnya tidak perlu di lakukan. Dimana satu intervensi akan menimbulkan munculnya intervensi berikutnya dan berikutnya lagi. 

4. Tidak Kejar Target 

Proses kelahiran, kematian adalah rahasia Sang Pencipta. Dan ini akan terjadi ketika Dia menghendakinya. Artinya bahwa seharusnya tidak ada kata-kata death line di dalam proses persalinan. Kita tahu bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi berkembang untuk membantu Anda dan saya, untuk memudahkan Anda dan saya dalam menjalani dan mendampingi proses persalinan. Sebagai contoh penggunaan rumus Neagle dalam penentuan hari perkiraan lahir, atau USG untuk menentukan umur kehamilan dan hari perkiraan lahir. Semua tehnologi dan ilmu tersebut bertujuan untuk mempersiapkan Anda dan saya supaya lebih “aware” atau lebih waspada kapan sekiranya bayi Anda akan dilahirkan. Namun kenyataannya seringkali justru Hari Perkiraan Lahir dianggap sebagai harga mati dalam persalinan dimana jika hari perkiraan lahir tersebut terlampaui maka berbagai intervensi dilakukan agar sang bayi segera lahir, tidak perduli apakah tubuh ibu sudah siap atau belum, atau apakah bayi memang sudah siap untuk dilahirkan atau belum. 

Tanpa melihat pola menstruasi sang ibu yang lalu atau pola konsepsi yang terjadi HPL jadi harga mati. Sehingga seringkali intervensi yang tidak perlu terjadi karena mental “kejar target/kejar death line “ ini. Tidak hanya itu saja, ketika masuk dalam proses persalinanpun seringkali provider menetapkan tentang target pembukaan. Dimana pembukaan haruslah berjalan sekian jam. Namun ketika pembukaan berjalan dengan sedikit lebih lambat, dan tidak sesuai dengan tabel grafik atau pedoman yang mereka pakai, maka tanpa melihat akar masalah dari pembukaan yang melambat tersebut, provider langsung melakukan berbagai intervensi untuk mengejar target pembukaan. Nah pertanyaan yang perlu di renungkan adalah: Di dalam teori dan penelitian dikatakan bahwa setelah pembukaan 5 cm, maka pembukaan akan meningkat satu sentimeter tiap jam-nya. Jadi misalnya pembukaan lima terjadi di pukul 18;00 maka pukul 23;00 pembukaan harusnya sudah lengkap. Nah dari teori dan penelitian tersebut, apakah bisa diterapkan kepada semua wanita bersalin di muka bumi ini? Tentu saja tidak! Karena proses kelahiran tidak bisa di atur jam nya. Namun yang terjadi adalah seringkali teori dan hasil penelitian tersebut dijadikan sebagai standart operating procedur (SPO) yang membuat provider seolah-olah memperlakukan seorang ibu bersalin seperti “robot yang melahirkan”. Nah apa yang terjadi jika perilaku kejar target ini Anda miliki saat proses persalinan? Dimana setiap saat Anda melihat jam dinding untuk menghitung sekiranya berapa lama Anda akan menjalani proses persalinan ini, yang barangkali terasa tidak nyaman bagi Anda? Lalu perasaan apa yang akan Alami jika ternyata target waktu yang sudah ditentukan tersebut terlampaui, misalnya didalam teori dikatakan bahwa proses persalinan untuk ibu yang pertama kali bersalin adalah sekitar 18 sampai 24 jam. Namun apa yang terjadi atau yang Anda rasakan jika ternyata 24 jam tersebut sudah terlewati dan ternyata proses pembukaan masih berlangsung lama? Bukankah itu justru akan menghambat proses karena justru Anda menjadi stres dan semakin cemas dan khawatir? 

5. Percaya diri (Trust) 

Belajar untuk “mendengarkan” tubuh belajar untuk memercayai tubuh adalah elemen kunci dalam keberhasilan sebuah persalinan alami. Ketika mind set Anda menyatakan bahwa tubuh seorang wanita di ciptakan untuk melahirkan alami, maka Anda akan mampu menjalani proses persalinan tersebut walaupun mungkin proses tersebut begitu tidak nyaman atau bahkan menyakitkan. Namun sebaliknya jika di dalam diri Anda tidak percaya diri, maka Andapun tidak akan mampu melewati masa-masa itu dengan baik. Percaya kepada kekuatan tubuh, percaya pada kekuatan bayi Anda dan tentunya percaya kepada Nya bahwa Anda diciptakan untuk melahirkan alami dijaman ini memang bukan sesuatu yang mudah namun harus Anda lakukan untuk mencapai Gentle Birth. 

6. Pengakuan dan penerimaan (Acknowledgment) 

Beberapa tahun yang lalu sebelum hamil, Bunda Sari mengalami kecelakaan mobil yang serius yang menyebabkan tulang panggulnya sedikit mengalami cidera atau retak sedangkan sendi atau engsel yang menghubungkan panggul dengan tulang pahanya bergeser bahkan terlepas. Pemulihan yang dia lakukan cukup lama. Setelah kondisinya pulis, satu tahun kemudian bunda Sari hamil. Dan dia ingin sekali melahirkan normal alami tanpa intervensi medis. Berbagai upaya dia lakukan, mulai dari mencari dokter kandungan yang “pro normal” kemudian menceritakan apa yang dia alami. Namun sang dokter sangat fokus dengan kondisi tulang panggul dan paha pada bunda Sari. Lalu di usia 32 minggu, ternyata posisi janinnya sungsang. Dan itu membuat sang dokter tidak mengijinkan bunda Sari untuk melahirkan secara normal alami. Mengerti bahwa dia kecewa dan marah dengan kondisi dirinya sendiri, maka bunda Sari mencoba melakukan action. Dia menjelajahi internet, dia bertanya kepada suami dan teman-temannya. Dia mencoba untuk melakukan Yoga, tai chi, Hypnobirthing dan visualisasi supaya posisi bayinya kembali ke posisi kepala. Saat itu bunda Sari sangat tidak ingin melahirkan secara sesar. 

Dan akhirnya bunda Sari semakin rajin untuk mencoba membangun koneksi atau hubungan dengan tubuhnya dan bayinya. Di usia kehamilannya yang menginjak 35 minggu saat itu, ternyata sang bayi tetap saja berada dalam posisi sungsang, namun saat itu setelah melakukan relaksasi dan komunikasi dengan janin bunda Sari tiba-tiba menyadari bahwa melahirkan itu tidak hanya tentang dia pribadi, namun juga tentang dirinya dan anaknya. Apa yang terbaik bagi bayinya itu yang seharusnya dia fikirkan. Setelah selesai melakukan relaksasi dan komuniksai dengan janin akhirnya bunda sari justru menginginkan Operasi Sesar. Namun yang dia inginkan adalah operasi sesar yang lebut yang benar-benar dia persiapkan secara mental dan spiritual. Karena memang secara fisik bunda Sari tidak memungkinkan untuk dapat melahirkan secara normal alami. 

Kemarahan dan kekecewaan terhadap diri sendiri akhirnya hilang dan berganti dengan rasa percaya diri yang luar biasa. Dan alhasil di usia 40 minggu budan Sari melakukan operasi sesar yang terencana. Dan dia mendapatkan pengalaman operasi yang menyenangkan karena kebetulan dokter yang menanganinya adalah dokter yang sudah mengenal dan mengerti tentang penerapan gentle birth pada operasi sesar bahkan dokter tersebut mau dan mengijinkan untuk melakukan inisiasi menyusu dini di ruang operasi. Hari ketiga setelah operasi jahitan luka operasi bunda Sari sudah sembuh dan Asinya pun lancar memancar. Kisah bunda Sari diatas membuat kita sadar bahwa terkadang ada suatu kondisi dimana memang tidak memungkinkan untuk Anda melahirkan dengan normal alami. Mencoba untuk berdamai dengan kondisi Anda adalah hal yang terbaik. Sikap pengakuan dan penerimaan itu penting. Untuk menghindari kekecewaan dan trauma yang berkepanjangan. 

7. Pasrah dengan apa yang terjadi (Letting Be) 

Dalam proses persalinan terkadang kita tidak dapat mengontrol segala sesuatunya. Sebuah kisah yang mungkin dapat menjelaskan arti kata Letting Be di atas adalah kasus bunda Risky. Bunda Risky (Jogja) adalah klien saya yang sangat positif. Setiap selasa pagi jam 09;00 hampir dia tidak pernah absen mengikuti kelas prenatal yoga yang saya adakan di Studio Yoga Balance di hotel Puri Artha Jogja. Selain rajin beryoga, bunda Risky juga mengikuti kelas Gentle Birth Balance dimana saya mengajarkan tentang Hypnobirthing dan tentang gentle birth. Segala upaya yang dilakukan selama kehamilan adalah upaya untuk bisa bersalin dengan normal alami. Bahkan ketika bunda Risky sudah mengalami pembukaan satu sentimeter-pun bunda Risky masih mengikuti prenatal yoga. 

Ceritanya pembukaan yang dialami bunda Risky sangatlah lambat, pembukaan satu hingga lengkap terjadi selama tiga hari. Dan selama tiga hari tersebut kondisi janin sangat baik, detak jantung normal, gerakan normal, ketuban utuh dan bunda Risky merasa nyaman karena rasa sakit yang dia alami sangatlah minim. Ketika pembukaan lengkap, dan bunda Risky mulai mengejan ternyata penurunan kepala bayi tidaklah signifikan. Hampir dua jam mengejan dengan berbagai posisi (duduk, jongkok bahkan berdiri) dilakukan namun ternyata kepala janin hanya bisa turun hingga tengah panggul saja (Hodge 1+) saja dan tidak bisa lebih jauh lagi. Kemudian saat itu akhirnya saya merujuk bunda Risky ke rumah sakit dengan diagnosa “kala dua tidak maju” sesampai di rumah sakit memang benar bahwa kepala janin tidak bisa turun lebih jauh lagi, dan akhirnya operasi sesarpun dilakukan. Dan setelah selesai operasi sesar ternyata baru diketahui bahwa penyebab kenapa kepala bayi tidak mau turun adalah tali pusat sang bayi yang terlalu pendek hanya sekitar 20 sentimeter (normalnya 60-70 cm). 

Nah kejadian kasus seperti bunda Risky walaupun tidak banyak terjadi namun bisa saja terjadi pada Anda, pasrah dengan apa yang terjadi saat proses persalinan adalah mental yang penting sekali di bangun sejak awal. Sehingga yang terpenting adalah Anda mau mengupayakan sejak awal segala persiapan yang dibutuhkan dalam persalinan, kemudian saat proses persalinan tiba cobalah untuk pasrah dan menjalani proses dengan hati yang ikhlas. Karena yang paling penting adalah bagaimana Anda mempersiapkan dan berjalan bersama proses tersebut. 

8. Kebaikan (Kindness) 

Kebaikan adalah mutlak diperlukan bagi Anda sebagai calon orangtua. Karena energi ini sangatlah berdampak positif dalam pola pengasuhan baik di dalam rahim maupun jika janin Anda sudah lahir. Ketika Anda memancarkan kebaikan dan mengarahkan energi kebaikan kepada semua orang termasuk suami, janin dalam kandungan dan keluarga maka Andapun akan merasa nyaman dan tenang. Berikut ini latihan meditasi yang bisa Anda lakukan untuk membangun energi kebaikan tersebut: Meditasi untuk Kebaikan Mengarah kepada sendiri Semoga saya senang Semoga aku menjadi berseri-seri sehat Semoga saya terus tumbuh dan berubah menuju kebaikan Saya merasa dicintai dan didukung Kemudian mengarah ke pasangan Anda (Anda mungkin mengatakan nama mereka di depan kalimat jika Anda inginkan) Semoga Anda senang Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat Semoga Anda terus tumbuh dan berubah menuju kebaikan Semoga Anda merasakan cintaku Kemudian mengarahkan kepada bayi, (Anda mungkin mengucapkan nama bayi Anda jika sudah ada dan jika Anda inginkan) Semoga Anda senang Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat Semoga Anda terus tumbuh dan berubah menuju kebaikan Semoga Anda merasakan cintaku Kemudian mengarah kepada keluarga (termasuk anggota lain) Semoga Anda senang Semoga Anda menjadi berseri-seri sehat Semoga Anda terus tumbuh dan berubah menuju kebaikan Semoga Anda merasakan cintaku Lakukan ini sesering mungkin Contoh kasus dalam persiapan bathin dalam menghadapi persalinan ini adalah seperti kasus yang pernah saya temui berikut ini: Suatu sore, bunda Mitha datang ke Klinik Bidan Kita, dan mengambil kelas healing birth trauma serta persiapan untuk rencana VBAC-nya (Vaginal Birth After Caesarean/ melahirkan normal setelah sebelumnya opreasi sesar). 

Bunda Mitha adalah seornag bidan, dan ibunyapun seorang bidan senior di daerah Surakarta. Di pertemuan pertama kelas healing birth trauma, beliau bercerita tentang semua trauma yang dia alami saat melahirkan di rumah sakit, mulai dari proses induksi, perlakuan para bidan dan suster yang menurutnya kurang manusiawi, operasi sesar yang tidak dia duga sama sekali, pemisahan antara dia dan bayinya selama beberapa hari. Dan masih banyak sekali trauma yang dia alami, hingga bunda Mitha tidak mau lagi mengajar mata kuliah Asuhan persalinan Normal di Stikes (sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) karena dia merasa gagal untuk melahirkan normal. Ketika ikut kelas, hal pertama yang saya ajarkan adalah tentang persiapan bathin dalam proses persalinan. Nah suatu hari bunda Mitha datang untuk melahirkan di Bidan Kita, kontraksi demi kontraksi dilalui dengan sabar dan tenang. Saat itu ketubannya sudah pecah duluan (Ketuban Pecah Dini), berbagai treatment saya lakukan untuk merangsang munculnya kontraksi dan berharap pembukaan segera bertambah. Namun yang terjadi penambahan pembukaan berjalan sangat lambat. Dan kepala janin tidak mau turun ke dasar panggul. Ketika kontraksi datang kepala janin mau turun namun sesaat kemudian setelah kontraksi hilang kepala janin naik kembali, begitu seterusnya. Hingga akhirnya di pembukaan 8cm, detak jantung janin menunjukkan reaksi distres dimana detak jantungnya sekitar 170 x per menit (angka normal= 120 – 160 x/menit). 

Akhirnya bunda Mitha saya rujuk mengingat kondisi janinnya tidak memungkinkan untuk tetap saya rawat di Bidan Kita. Sesampai di Rumah Sakit, setelah beberapa treatment yang mereka lakukan maka detak jantung janin kembali normal. Sekitar 5 jam, menunggu ternyata pembukaan hanya tambah ½ cm saja. Dan kepala janinpun tidak mau turun ke dasar panggul. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan sang dokter memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Dan ternyata ketika di lakukan operasi, sang bayi mengalami lilitan tali pusat sebanyak 3 kali lilitan dan ketat. Hal inilah yang ternyata menyebabkan kepalanya tidak mau turun dan pembukaannya berjalan begitu lambat. Karena Bunda Mitha sudah dipersiapkan mentalnya untuk menghadapi segala kemungkinan dalam persalinan, dima adia belajar tentang kesabaran, pasrah, kebaikan, maka justru di proses operasi sesar yang kedua ini dia tidak mengalami trauma. Dan mampu melihat semua peristiwa dari kacamata yang positif. Dan saya sangat bersyukur untuk hal ini. Kita tahu dan kita tidak bisa memungkiri bahwa terkadang ada sesuatu yang terjadi diluar harapan kita ketika dalam proses persalinan dan kelahiran. Nah belajar untuk mempersiapkan mental dan spiritual untuk menghadapi proses persalinan adalah mutlak diperlukan untuk Anda calon orang tua. 

Selamat memberdayakan diri Salam Hangat Yesie Aprillia

Uhmm semoga artikel ini bermanfaat ya............................

16 July 2013

03 June 2013

Alhamdulillah...
Alhamdulillah, Alhamdulillah... Alhamdulillah

Diantara waktu-waktuku menjalani adaptasi menjadi seorang istri, kerinduan tatkala melihat teman-teman lainnya sudah memiliki buah hati itu begitu membuncah dihati.
Tak jarang air mata selalu menetes ketika doa-doa teruntai dalam pintaku kepada Sang Maha Kuasa

Enam bulan berlalu, disaat hati sudah mulai terbiasa dengan kehidupan berdua. Allah menjawab segala doa-doaku akan hadirnya sang permata hati. Alhamdulillah Ya Rabb

Yup, pada Maret lalu..
Kuasa Allah begitu kurasakan
Atas desakan dari kakakku, yah akhirnya kepake juga testpack yang emang tiap bulan udah distock hahaha karna pada saat itu emang udah 'telat' 4 hari.
Sebenernya harapan akan positif itu ga terlalu besar, soalnya 2 bulan yang lalu pernah juga telat sampe 2 mingguan tapi akhirnya negatifff juga haha yah namanya belum rezeki.

Sembunyi-sembunyi make testpacknya pas suami belom pulang, soalnya masih kebayang wajah kecewanya waktu 2 bulan lalu nge-testpack bareng-bareng eh taunya garisnya cuma satu. Jleb! rasanya nyesek banget.

Pas testpacknya dicelupin pelan-pelan garisnya naik, tapi berhenti di garis pertama... rasa kecewa ini muncul lagi. Tapi itu ga lama... akhirnya muncul garis satu lagi tapi samaaarrrr banget. Langsung nelpon kakak trus ngabarin hal ini. Dia sampe njerit-njerit ngeyakinin aku kalau itu tandanya aku hamil!
Yap. akhirnya aku hamil!!!.. Alhamdulillah

Ketika disampein ke suami, dia sampe nangis denger khabar gini dan langsung ngerencanain buat periksa ke dokter.
Nanya-nanya sana sini dokter mana yang direkomendasiin akhirnya pilihan jatuh ke dr. Letta Sari Lintang, Sp.OG karna saat itu kakak ipar juga ada yang lagi hamil dan rutin check ke tuh dokter. Eh gak juga kok
milih dokter itu juga karna dia dokter kandungan cewek... rasanya kok lebih nyaman aja yah kalo dokter kandungan itu cewek :) trus pertimbangan rumah sakit yang nantinya dipilih untuk persalinan. Kebeneran nih dokter praktek di RS yang menurut kami berdua bagus.

Tanggal 21 Maret 2013, akhirnya jadi juga kedokternya. pas di USG 3D katanya belum keliatan... so dicoba pake USG transvaginal. Alhamdulillah akhirnya keliatan juga walau cuma buletan hitam :)
Janin Usia 4W6D
Catatan di buku kunjungan saat itu, TTP (taksiran tanggal persalinan) 22 November 2013 trus GS (Gestasional Sac) 0,38... yang lainnya ga kebaca soalnya tulisan dokternya super ga kebaca. Ah tapi apapun itu yang penting udah ngeyakinin kami berdua kalau Allah bener-bener udah kasih kepercayaan buat kami untuk selangkah lagi menjadi orang tua bagi bayi kami kelak. Amin :)

Beberapa hari setelah pemeriksaan itu, entah memang karena efek kehamilan atau memang kesalahan gerak di aku. Pada saat itu kaki kiriku ga bisa dibuat jalan, ga bisa dijejakkan sehingga kerjaan apapun ga bisa dilakukan soalnya harus nyeret-nyeret ngesot gituh.
Beberapa hari ditempat tidur bener-bener ngebuat aku drop banget, soalnya pada saat itu aku juga harus memenuhi kebutuhan janinku ditambah lagi kalau lagi hamil ga boleh sembarangan minum obat kecuali yang diresepkan dokter.

Hasil cerita-cerita ama temen yang kebeneran juga dokter, dia sarankan kalau aku pergi kedokter spesialis saraf untuk meriksain. Tapi jujur aku takut banget! takut tindakan-tindakan mereka malah membuat janinku tersiksa. 
Temenku itu menduga kalau aku kena Ischialgia...
Rasanya semakin takut, soalnya kandunganku masih dibulan awal.. gimana nanti kalau sudah masuk trisemester berikutnya?....

Ambil izin sakit kekantor, akhirnya 2 hari dirumah dengan ditemenin adek ada sesuatu yang membuat aku sedih benar. Rasa runtuh bumi ini pas tau waktu mau mandi sore ada bercak darah yang enggak sedikit di tempat tidur.
Darah itu makin banyak... banyak dan banyak mengalir...
Langsung nelp suami minta dijemput kedokter buat langsung cek, sambil air mata ini gak bisa brenti. Ya Allah selamatkanlah janinku.. selamatkanlah anakku! doa dan doa terus kubaca. Allah hamba mohon dengarlah pintaku.

Sampai dokter, karna dengan 'pesan khusus' kalau ini tindakan emergency makanya bisa dapet antrian cepet dan Alhamdulillah setelah diperiksa dokter katanya enggak apa-apa. Cuma ada kontraksi aja dirahim yang ngebuat pendarahan terjadi. Menurut dokter ini adalah pendarahan pervaginal yang disebutnya Abortus Imminens (terjadinya perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi ini, kehamilan masih mungkin berlanjut dan dipertahankan). Pas di USG tertulis CRL (crown rump lenght, yaitu ukuran jarak dari puncak kepala ke ekor bayi. Biasanya dipakai untuk usia kehamilan di semester satu) 0,53cm, GA 6w2d. Kalo dari hasil foto USG sih bener2 ga keliatan apa gambarnya, tapi pas dilayar bener-bener buat terharu banget karena detak jantungnya keliatan dan kedengeran. Subhanallah.....


Janin Usia 6w4d
Syukur yang nggak terhingga karna Allah sekali lagi masih mempercayai aku untuk menjalankan amanah ini.
Menjalani kehamilan dihari-hari selanjutnya tidak terlalu berat bagiku. Sakit dikaki ini juga tidak terlalu dirasa karna semangat yang semakin besar untuk bener-bener menikmati semua proses kehamilan ini. Wah, semua 'rasa' bercampur menjadi satu! senang, gembira, cemas, rasa 'keluhan atas sakit', ahh... semua itu indah bgt!!!.

Kunjungan ketiga kedokter untuk periksa itu tepat tanggal 14 April yang lalu, yah rada kecepetan sih dari jadwal yang ditentukan haha karena ga sabar pengen liat lagi gimana udah khabarnya buah hatiku :)
Pas dokter liat catatan kesehatanku, agak senewen juga tuh dokter ngeliat catatan timbanganku yang semakin turun tapi dia semangat lagi karena berat janinku normal bahkan gerakannya cukup lincah. Detak jantungnya terdengar sangat tenang, sangat teratur dan sangat membuatku tenang..
Fisiknya sudah jelas terlihat bagian-bagiannya. Ada kepala, dua tangannya, perutnya, dan dua kakinya... Walaupun detail2 lainnya belum jelas terlihat, tapi sangat-sangat bersyukur dan takjub bahwa ada kehidupan lain didalah tubuhku yang nantinya akan menjadi amanah Allah untukku dan suami kelak. Oh Nak, Bunda udah gak sabar pengen lihat kamu, meluk kamu, dan hidup bersama denganmu..

Hasil USG terlihat kalau CRL nya sudah 2,5cm... nah, udah tambah 2cm nih :) GA 09w0d.. Love u more, dear :*
Janin Usia 9w0d


Hahaha ga kerasa waktu menjalani hari-hari di kehamilan ini, mual dan muntah emang dari awal enggak ada.. bahkan temen2 lain yang lagi hamil bilang.. 'enak banget yah kamunya, hamil tapi enggak ngerasain mual-mual, ngidam dan lainnya'...
Hwahh kalau itu sih yah enggak tau yah, pokoknya positif aja deh ngejalanin semuanya. Paling-paling gejala yang sangat-saaangat mengganggu adalah sakit di pinggang (Low Back Pain). Mungkin karena sehari-hari aku harus kerja dari pagi sampe sore, plus ngurusin rumah dan dapur tentunya yg sedikit membuat susah banget tidur kalau capeknya udah gak ketulungan.

Yah Alhamdulillahnya suami faham bener kalo aku sekarang lagi lepoh to the max! hahaha.... Sebisa mungkin masak sarapan selalu ada buat suami, ntah hanya sepotong roti :) sementara untuk bekal enggak dulu deh hehehe :) love u Ntuuuu...

Ngeliat stock vitamin udah menipis, wah berarti udah saatnya buat periksa lagi nih... tanggal 17 Mei lalu sumringah banget kedokternya karna enggak ada keluhan apapun. Yah tapi teuteeeppp kalo timbangan belum juga naikkkkk.
Bu Dokternya bilangggg.... kamu makan es cream, cokelat, apaaa aja deh yang kamu mau :)
Nah denger kan Ntu, selama ini ntu selaluuu ngelarang kalo akunya mau makan es cream, kalo mau makan cokelatt,kalo mau mie aceh, kalo mau sate padaaanggg. Tweeeng!! dokternya aja gak ngelarang. Si Ntu cuma bisa mesem-mesem aja wkwkwkw :D

Hasil USG bener2 semakin buat takjub lhooooooo... sekarang janinku udah bisa ngisep jempol, udah bisa pegang tali pusatnya, dah bisa gerak-gerak bolak balik. Pokoknya pokoknya pokoknyaaaaaaa Allah itu sang Maha Pencipta!.
Janin Usia 13w

Tuh, dah liat kannnnn, sekilas wajahnya seperti tersenyum pas dokter capture hasil USGnya....
sekarang CRL nya sudah 6,8cm.. BPD (Biparietal Diameter. Diameter antara 2 sisi kepala, yang diukur setelah bayi berusia di atas 12 minggu) sekitar 2,2cm. Kalau googling untuk 13w katanya antara 2,4cm tapi kata dokternya normal kok hehe itu yg terpenting!... aku percaya dokter aja deh, percuma bayar mahal-mahal kalo kita masih ngeraguin juga.

Oh ya, sekarang lebih enakan hamilnya karna resep yang dikasi juga cuma untuk 2 macem aja, lebih dikit lebih murah tentunya. Biasanya nebus obat itu sampe 500an ribu.. tapi sekarang ga sampe 200an ribu aja, so sisanya bisa dibuat emaknya jajan hahaha :D

Insya Allah jadwal cek selanjutnya per tanggal 20 bulan ini.. so, doain semua sehat yah, tumbuh kembangnya normal, berkah Allah untuk kehidupan baru ini. 
Alhamdulillah....

Ya Allah jagalah anakku selama ada di dalam kandunganku
Ya Allah bentuklah dia dalam kandunganku dengan bentuk yang bagus dan tetapkanlah iman hatinya padaMu dan utusanmu
Ya Allah keluarkanlah dia dari kandunganku pada waktu aku melahirkan dengan mudah dan selamat
Ya Allah jadikanlah dia orang yang sehat, sempurna, punya akal, cerdas, alim mau mengamalkan ilmunya.
Ya Allah berilah dia umur panjang, badan sehat dan budi pekerti yang baik, dan berilah lisan yang fasih serta berilah suara yang baik guna untuk membaca hadist dan Al qur’an dengan mendapat berkahnya nabi Muhammad SAW
Segala puji bagi Allah yang menguasai sekalian alam. Aminn

 

02 May 2013





Happy Birthday to youu...
Happy Birthday toooo yoooouuuu...
Happy Birthday, Happy Birthday... Happy Birthday toooo yooooooouuuu!

Selamat Milad Bi Zanu...
Selamat potong kue
Selamat tiup lilin
Selamat makan semangka!

Doa, doa, doaaaaaa terus untukmu
Semoga yang terbaik selalu atasmu dan keluarga
Karna kutau, kebahagiaanmu.. kesederhanaanmu.... ke'apa-ada' nya dirimu selalu menularkan rasa tenang untuk yang lain. Aku tau itu!

Selamat milad Pak Kepala Sekolah
Zanu Zawa...
Bangga banget ama kamu...
Sehat terus yah, gemukin badan yah... Hehe jangan banyak2 minum kupi

Pokoknya, doaku selalu ada untuk kamu Bi...
Insya Allah selama nafas ini ada.

Hey! Kuyusssss...
^-^v

18 March 2013

Rindu yang sederhana ini tiba-tiba membuat sesak didada...
Rindu yang sederhana ini berjalan melewatiku diantara rindu-rindu aneh lainnya yang rasanya tidak sebesar rinduku atasmu.
Kita memang tidak pernah bertemu apalagi saat ini kesempatan untukmendengar suaramu-pun menjadi barang langka buatku.
Namun aku yakin, disela-sela bencimu kepadaku... Diantara untaian amarahmu atas salah ku..
Engkau pasti masih mengingatku!

Mengingatku walau hanya sepenggal-penggal...
Mengingatku walau bentuknya amarah dan benci...
Tapi kamu harus yakin, hingga saat ini.. Rasa ini tetap sama
Walau keadaan telah begitu banyak berubah
Walau kesalahanku telah begitu banyak menyakitkanmu

Bi Zanu...
Engkau teman, sahabat, abi, dan sangat memiliki pengaruh dalam hidupku
Andai engkau berkenan untuk menghampiriku dengan sms atau apapun bentuknya sekedar menanyakan khabar
Alangkah senangnya :)
Andai...

Tapi
Sudah cukup bagiku untuk tau kalau kamu sekarang bahagia
Sudah cukup bagiku untuk tau kalau kamu sekarang semakin produktif
Kamu hebat Bi... hebat banget
Eh Kim sudah melahirkan yah..

Apapun itu, Bi Zanu Aku Kangennnnn!!!!
Ah, Rindu ini jadi tidak sederhana lagi
:(

Yang memang milikmu pasti akan menjadi milikmu.
Yang memang bukan milikmu pasti tidak akan menjadi milikmu.
Yang belum waktunya datang juga tidak akan datang sekarang.

Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik atau bukan, dan kapan waktu yang tepat untuk datang.



25 February 2013

Suasana hati sedang naik turun ibarat roller coaster. Sedikit tenang setelah membaca ini dari note di FB. Setelah search di google ternyata banyak yang posting tentang ini dan gak tau siapa yg nulis tetang ini dari awal.
So, siapapun kamu yang membuat poem/quote atau apalah namanya kata2 berikut ini... semoga jika ada yg nemuin ini di blogku dan ngerasa lebih nyaman. be thankfull! :)
.....................................................................
Aku belajar diam dari banyaknya bicara.
Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan.
Aku belajar mengalah dari suatu keegoisan.
Aku belajar menangis dari kebahagiaan.
Aku belajar tegar dari kehilangan.

Hidup Adalah BELAJAR.......
Belajar Bersyukur Meski tak Cukup,
Belajar Ikhlas Meski Tak Rela,
Belajar Taat Meski Berat,
Belajar Memahami Meski Tak Sehati,
Belajar Sabar Meski Terbebani,
Belajar Setia Meski Tergoda,
Belajar Memberi Meski Tak Seberapa,
Belajar Mengasihi Meski Disakiti,
Belajar Tenang Meski Gelisah,
Belajar Percaya Meski Susah,

Belajar dan Terus Belajar...
Belajar sampai pada akhirnya Allah yang menyempurnakan..
Aamiin!!

Janganlah pernah menyerah....teruslah berjuang......
Hidup bukanlah satu tujuan..,melainkan perjalanan.....
Nikmatilah..........

Hidup adalah tantangan, Hadapilah....
Hidup adalah anugerah,Terimalah....
Hidup adalah pertandingan, Menangkanlah.....
Hidup adalah tugas, Selesaikanlah.....
Hidup adalah cita cita, Capailah....
Hidup adalah misteri, Singkapkanlah....
Hidup adalah kesempatan, Ambilah....
Hidup adalah lagu, Nyanyikanlah....
Hidup adalah janji, Penuhilah....
Hidup adalah keindahan, Bersyukurlah....
Hidup adalah teka teki, Pecahkanlah....
Satu hal yang membuat kita bahagia adalah CINTA...
Dan satu hal yang membuat kita dewasa adalah MASALAH...
 
Dunia diciptakan untuk sebuah MASALAH...
Hadapilah sejuta MASALAH apabila MASALAH itu bisa memberi manfaat kepada kita dan banyak orang di sekitar kita.....
Akan tetapi HINDARI satu masalah apabila masalah itu akan memberi MUDHARAT kepada kita dan orang di sekitar kita...........

03 October 2012


Wezz, akhirnya bisa juga nulis disini setelah sekian lama pengen update postingan tapi masih dalam tahap NIAT :) 

Niat itu ada sudah lama sekali, bahkan jauh sebelum aku sibuk-sibuknya mempersiapkan acara merisik, lamaran bahkan akad nikah hingga resepsi. tapi, yah namanya juga penulis amatiran. selalu aja ga pede buat posting!.

Awalnya dulu pengen buat report untuk setiap kegiatan persiapan, termasuk persiapan lamaran beserta apa-apa aja yang disiapkan untuk hantaran, prosesi adat, hingga akad dan yang paling ribet untuk resepsinya. Tapi yodahlah, toh semua sudah berjalan baik, bahkan lebih dari apa yang diharapkan... semua berjalan dengan penuh khidmat, semua keluarga juga bekerjasama dengan sangat amat baik, dan yang paling disyukuri adalah Alloh memberikan begituuu banyak kemudahan dan karunianya... hampir seluruh undangan yang diundang baik melalui undangan resmi maupun secara lisan/sms hadir meski acara sudah selesai begitu juga dengan cuaca yang amat-sangat mendukung. Alhamdulillah Alloh untuk semuanya.

Sekarang, tepat 3 minggu sejak akad itu. 3 minggu sejak berubahnya statusku, 3 minggu sejak hidup baru itu datang.... sejak kami menikah!. Yap 07 September 2012 lalu, kami resmi mengikatkan diri untuk saling membina hidup rumah tangga. Hidup sebagai sepasang suami-istri yang saling sadar akan tugas dan kewajibannya masing-masing.. Insya Alloh.

Hingga sekarang kami masih belum percaya kalo waktu lama yang dilewati selama masa pacaran udah terlewati dan sekarang lanjut ke pernikahan, hahaha walau masih saling kikuk untuk hidup berdua apalagi ditambah 3 hari sejak resepsi kami berdua langsung angkat koper pindah kerumah sendiri, yang bisa dibilang gak deket dari rumah masing-masing... hiks

Seminggu pertama adalah saat yang paling menyedihkan dalam hidupku, berpisah dari keluarga terutama mama ngebuat aku jadi suka mellow sendiri, nangis sendirian, dan bahkan sampe ga kuat kalo ga dateng kerumah mama untuk hanya sekedar ngeliat wajahnya. love u soo much Mom!...
Sekarang dalam seminggu dibuat jadwal paling sedikit 2x untuk kerumah mama hihihi, diselang-seling untuk dateng kerumah mertua karna rupanya suami pun ketularan mellow. Yah secara anak paling kecil, masih aja keliatan manjanya hehe tapi sekarang manjanya ke aku hahaha.

sip sip sip, segini dulu ceritanya... besok-besok mudah-mudahan ada keberanian lainnya buat posting. Yay!

 noteee: ini bukan foto2 kampanye Jokowi-Ahok ya :)

04 November 2011


Suka suka suuukaaaa bgt ama lagu ini... pika21

Need lyric?...

"Someone Like You"pucca_love_10

I heard that you settled down
That you found a girl and you're married now.
I heard that your dreams came true.
Guess she gave you things I didn't give to you.

Old friend, why are you so shy?
Ain't like you to hold back or hide from the light.

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead,
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead,"
Yeah.

You know how the time flies
Only yesterday was the time of our lives
We were born and raised
In a summer haze
Bound by the surprise of our glory days

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead."

Nothing compares
No worries or cares
Regrets and mistakes
They are memories made.
Who would have known how bittersweet this would taste?

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead."

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said,
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead,
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead."

28 October 2011

Yippi yippi yee...

Hmm, kesiannya blog ini.. dah lama banget dianggurin. Terakhir postingdisini
udah sekitar Agustus yang lalu.

Bukannya nggak punya hal-hal menarik untuk diceritain, tapi lebih ke nggak punya kemampuan aja buat nyusun kata-kata buat ditulis disini. Nah kalau kata-katanya gak menarik, kan nggak akan enak buat dibaca #alesan!

03 August 2011

Wahai seseorang yang telah tertulis dalam lauhul mahfudzku, imam ku dan ayah dari anak-anakku, engkau yg membersamai perjalananku nanti.

  • Aku percaya kau sedang memperbaiki dirimu, memantaskan dirimu tuk menjadi imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak.
  • Aku percaya kau sedang menempa dirimu dalam beribu cobaan dengan, mencampakkan jauh egomu.
  • Aku percaya kau sedang mengkaji, kau sedang belajar,belajar ilmu dunia terutama ilmu akhirat,yang akan kau gunakan dalam mendidikku dan buah hati kita nanti.
  • Aku percaya Al-Qur’an selalu ada dalam hatimu, selalu terucap dari bibirmu dan dzikir slalu melantun menemani langkah jihadmu.
  • Aku percaya kau sedang menundukkan pandanganmu,menjaga hatimu dan mencampakkan hawa nafsumu untuk menjaga kepercayaan yang telah kuberikan.
  • Aku percaya kau sudah merancang hidupmu, hidup kita, keluarga kita, untuk dan hanya karnaNya.
  • Aku percaya,kau sedang memantaskan diri dan terus memperbaiki diri dsana, dibelahan bumi manapun kau berada. Aku pun begitu sayang...
  • Aku sedang belajar… belajar menempa diri, menjauhkan egoku, membaktikan diriku untuk orang lain, agar baktiku padamu pun sempurna.
  • Aku sedang belajar, meniti cita-cita duniaku, meniti cita-cita akhiratku, agar kelak keluarga islami dan kluarga Qur’ani yg aq inginkan nanti dapat kubangun bersamamu… karna kau tahu? meskipun kau imamku, ibu adalah madrasah pertama bagi mujahidah kecilnya nanti.
  • Aku sedang belajar menjaga diri,menjaga pandangan dan hatiku,agar ketika kau memiliki hati ini, hati ini masih utuh sempurna hanya untukmu.
  • Aku sedang menempa diri, untuk menjadi seorang Khadijah untukmu,yang menjadi tempatmu membagi resah… seseorang yang kau datang padanya, saat kau tak tahu lagi akan datang pada siapa… seseorang yang menguatkanmu dan menggenggam slalu tanganmu dalam perjalanan jihadmu
  • Akupun ingin menjadi ‘aisyah’ mu, seorang yang membuatmu tersenyum dan kembali ceria saat penatmu mulai datang, seorang yang menyerap ilmu darimu dengan sempurna dan membenarkan apa-apa yang salah dalam lakumu, seseorang yang mencintaimu dengan cemburunya, namun bisa kau rasakan sakitnya saat aku tersakiti, hingga kau katakan pada yg lain “janganlah kau sakiti aku dengan cara menyakti ‘aisyah’.
  • Aku ingin mejadi fatimah, yang tak kau bagi cintamu pada yang lain.. bukan karna aku tak percaya kau tidak dapat berlaku adil,tapi karna aku ingin mencintaimu dengan sempurna,tanpa diganggu oleh cemburuku,itu saja
  • Tak kalah lagi, aku ingin menjadi seperti ibunda hajar, yang tak gentar saat kau tinggalkan di padang pasir tandus dengan seorang bayi mungil di pelukan.. tak takut akan kehilanganmu, karna keyakinanku pada Rabbku lebih besar daripada yakinku padamu. Cintaku padamu tak akan mengalahkan cintaku pada Rabbku. Usahaku ini tidak mudah sayang, begitupun usahamu kuyakin itu maka tetaplah dalam jihadmu tetaplah dalam usahamu, tetaplah dalam ikhtiarmu. Aku yakin kau kuat disana, dan doakanlah agar akupun kuat disini dalam jihad dan ikhtiarku, bawalah aku dalam tiap doa dan sujudmu. Kumohon karna doa yg dapat menolongku hingga saatnya, kita bertemu dalam ikatan suci menyempurnakan separuh diri, dan kita akan melanjutkan jihad kita bersama, dan nanti terimalah aku apa adanya jika aku belum bisa mejadi khadijahmu, ‘aisyahmu atau bahkan menjadi seperti ibunda hajar tapi bimbinglah aku menjadi seperti mereka dan kita bimbing bersama mujahid muda kita nanti.
  • teruntukmu yang ada disana, kuatlah dan bersabarlah bawalah aku dalam doa dan sujudmu, agar cinta kita nanti, hanya karnaNya… Aamiin…

-note facebook-

Ini cerita tentang aku, tentang hidup… Tentang bagaimana aku tidak mensyukuri hidup, tidak menyadari betapa kayanya hidupku dengan anugerah Allah.

Kusadari, bahwa hidupku lebih banyak diisi dengan keluhan dan protes kepada Sang Maha Berkehendak!.. sejuta “Kenapa”, beribu “umpatan” membuat aku lupa bersyukur (atau malah sengaja???), membuat aku buta dan akhirnya gak menyadari kalau apa yang aku alami, apa yang aku punyai, dan apa yang telah aku rasa itu semuanya anugerah.

beribu atau bahkan berjuta orang rela mati demi bertukar tempat denganku. diluar sana mereka justru masih sedang berjuang memperoleh sepersekian persen dari apa yang telah aku punyai sekarang.

Alangkah naifnya aku, alangkah busuknya hatiku kalau aku hanya berfikir negatif kepadaNya.

Ya Allah, ampunilah aku…

Selama ini aku selalu menyalahkanMu atas apa yang telah terjadi dihidupku, yang selama ini kuanggap sebagai suatu kekurangan ternyata tersembunyi hadiah dariMu ya Rabb.

Aku selalu ingin menjadi orang lain, menjadi lebih indah fisiknya… berharap lebih tinggi, lebih kurus, lebih putih, lebih cantik, lebih mancung, dan lebih segalanyaaa

Aku selalu ingin menjadi orang lain, menjadi lebih kaya hartanya…. berharap lebih banyak tabungannya, gadget yang mutakhir, kendaraan yang mewah, perhiasan yang indah, baju-baju yang mahal, sepatu bermerk, tas yang sama seperti mereka-mereka yang modis

Aku selalu ingin menjadi orang lain, menjadi lebih mapan… berharap kerja di perusahaan elit dengan ruangan pribadi. Dengan pakaian mewah, dengan jenjang karir yang bagus, dengan lafal english yang lancar

Aku selalu ingin menjadi orang lain, menjadi lebih dalam setiap impian duniawi…. keinginan itu muncul setiap kali melihat, mendengar dan merasa cemburu dengan mereka.

Aku juga ingin menjadi seperti orang lain yang lebih bagus hafalan Qurannya, lebih rajin ibadahnya, lebih sering sedekahnya dan lebih dekat denganMu ya Rabb! tapi kenapa keinginanku kali ini tidak sebesar keinginanku akan duniawi…

Ampuni hamba ya Ilahi…

Hamba sadari kekeliruan ini. Hamba gak bersyukur justru malah kufur akan nikmatMu.

Apa yang kurang coba?? Engkau telah karuniakan hamba fisik yang lengkap tanpa kurang apapun. Kakiku sangat kuat untuk menopang tubuh dan beraktifitas. Jari-jariku lengkap dan sangat kuat untuk melakukan hal apapun.

Engkau juga telah karuniakan hamba keluarga yang utuh, lengkap, berkecukupan… Engkau juga telah karuniakan hamba anugerah untuk lahir dari rahim seorang wanita yang ketegarannya tidak bisa dinilai, kesabarannya tidak bisa diukur, dan kasihnya yang tidak terbatas!

Engkau juga berikan hamba pekerjaan dengan gaji yang besar. pekerjaan yang tidak beresiko besar, tidak berpeluh dan berlumpur. Engkau anugerahkan kemampuan hamba untuk memiliki materi duniawi… Motor, gadget, emas, dan beribu barang lainnya yang mampu hamba beli untuk memenuhi kebutuhan duniawi hamba

Engka juga berikan pasangan kepada hamba Ya Rabb, pasangan yang tidak hanya indah dari fisik saja, tapi juga sifat dan perilakunya. Ia sabar, ia setia, ia bijak dan yang terpenting mau menerima hamba beserta seluruh kekurangan hamba

Engkau juga berikan hamba kesempatan untuk menikmati hidup tanpa perlu bergantung kepada orang lain.

LALU APAAAAA?

Hidupku sudah cukup indah. mengapa harus merasa iri dan cemburu kepada orang lain? mengapa terus-menerus haus akan kenikmatan dunia?

cukupkah ibadah yang sudah kulakukan selama ini untuk mensyukuri semua nikmat yang telah Engkau beri Ya Allah..

Mohon jangan hukum hamba atas kekufuran nikmat ini Ya Rabb

Aku bangga menjadi diriku sendiri! Aku sudah cukup, aku gak mau menjadi orang lain… Jika aku terus menerus ingin menjadi orang lain? lalu.. siapa nanti yang mau menjadi SEPERTI AKU???


Nemuin postingan yang buat air mata mendanau.... Insya Allah menjadi contoh teladan bagi kita semua, bukan hanya kaum Adam tapi juga untuk para Istri di dunia ini yang menghargai pasangan hidupnya...




Bismillahir-Rahmanir-Rahim​ ...

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu ..? ..

Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.
Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu .. ? ..

Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.
Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu .. ? ..

Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata...

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa. Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu?

Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita.

Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi. Kita bahagia. Sangat bahagiaâ...

Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga. Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey? Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, "tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa."

Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, "Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda." Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. "Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing." Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu?

Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. "Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin." Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang.

Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya? Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita?


"Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi." Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.

Kau mencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu.

Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. "Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja," kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya "tentara kecil" kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. "Pulang saja," katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat.

"Istri saya akan melahirkan," kataku yakin.


Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. "Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan," kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku.


Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara "tentara kecil" kita tak pula mau beranjak.

"Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang," kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu, Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi.

Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu. Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia.

"Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga," bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku.

Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu,

"Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!"

Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan,

"Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?"

Sebab, Tuhan akan menjawab,
"Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?"

Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. "Semua akan baik-baik saja." Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak - tidak terlalu sendirian. Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, "Aku ada di situ, menemanimu." Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. "Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!"

Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. "Ini anak Bapak"

Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. "Selamat, ya. Bayinya laki-laki."

Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah, bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat.

Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu. Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. "He is so cute," kata SMS ku kepadanya.

Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta.

Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita.

Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir. Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini.

Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak.

"Terima kasih, Kang," katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata "terima kasih" yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata "terima kasih" mu itu membuat wajahmu semelekat magnet paling kuat di kepalaku.

Mengurusimu dan bayi kita. Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia. Ada bisik bangga, "Ini anakku, anak laki-lakiku. "

Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu.

Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji mulia dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey? Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu.

(persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)

Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....
Marilah Setiap detak-detik jantung..,selalu kita isi dengan Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...

Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik..

 
Copyright (c) 2011 Adiba's Mommy. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.
Desing Downloaded From Free Blogger Templates | Free Website Templates | Free PSD Graphics